Langsung ke konten utama

Agama dan Masyarakat

 Peranan Agama Pada Kebudayaan Masyarakat di Indonesia | Berita Masyarakat  Indonesia - Lespimous

1. Fungsi Agama Dalam Masyarakat 

Peran agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu. Agama berpengaruh sebagai motivasi dalam mendorong individu untuk melakukan suatu aktivitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai unsur kesucian, serta ketaatan. Agama dalam kehidupan individu juga berfungsi sebagai
  1. Sumber Nilai Dalam Menjaga Kesusilaan '
  2. Sebagai Sarana Untuk Mengatasi Frustasi,
  3. Sebagai Sarana Untuk Memuaskan Keingintahuan. Selanjutnya berkenaan dengan fungsi agama dalam
kehidupan bermasyarakat. Masyarakat adalah gabungan dari kelompok individu yang terbentuk berdasarkan tatanan sosial tertentu. Masalah agama tak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena agama itu sendiri ternyata diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam praktiknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain : 
  1. Berfungsi Edukatif, 
  2. Penyelamat, 
  3. Sebagai Pendamaian, 
  4. Sebagai Sosial Control, 
  5. Sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas. 
  6. Berfungsi
  7. Transformatif, 
  8. Berfungsi Kreatif, 
  9. Berfungsi Sublimatif, dan Berfungsi Sublimatif. Untuk selanjutnya berkaitan dengan kemakmuran dan kebahagiaan manusia menurut ajaran Islam dapat dilihat
dari berbagai sisi diantaranya adalah 
  1. Kewajiban Sosial Manusia, 
  2. Manusia sebagai Pemakmur, dan
  3. Strategi Hidup sebagai Pemenang
2. Dimensi Komitmen Agama

Perkembangan iptek mempunyai konsekuensi penting bagi agama.Sekulerisai cenderung mempersempit ruang gerak kepercayaan dan pengalaman keagamaan. Kebanyakan agama yang menerima nilai- nilai institusional baru adalah agama – agama aliran semua aspek kehidupan.
Dimensi komitmen agama menurut Roland Robertson:

  1. dimensi keyakinan mengandung perkiraan/harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu.
  2. Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata.
  3. Dimensi pengerahuan, dikaitkan dengan perkiraan.
  4. Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, semua agama mempunyai perkiraan tertentu.
  5. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan.
3. Tiga Tipe Kaitan Agama Dengan Masyarakat

Tipe hubungan dengan masyarakat diantaranya (menurut Elizabeth K. Nottingham) 
  1. Masyarakat Pedalaman Di dalam kehidupan masyarakat pedalaman agama masih berdasarkan kepercayaan sehingga mereka mengadakan berbagai upacara ritual karena mereka percaya dengan begitu mereka sudah memiliki agama.
  2. Masyarakat Semi Industri Di dalam masyarakat semi industri sudah lebih maju dari masyarakat pedalaman sehingga di masyarakat semi indutri sudah memegang agama sebagai kepecayaan dan sebagai pedoman dalam melakukan segala hal seperti berdagang 
  3. Masyarakat Industri Sekunder (Modern) Di dalam masyarakat industri sekunder sudah banyak muncul teknologi canggih sehingga lebih mudah menolong kegiatan manusia, namun karena sudah banyak teknologi maka agama menjadi di “no duakan” sehingga kurangnya kepercayaan terhadap agama.
4. Pelembagaan Agama.
Tiga Tipe Kaitan Agama dengan Masyarakat :
Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954), yaitu :
  1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai- nilai sacral Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat, dalam kelompok keagamaan adalah sama.
  2. Masyarakat- masyarakat pra- industri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakat tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tipe masyarakat ini. Dan fase kehidupan sosial diisi dengan upacara- upacara tertentu.
  3. Masyarakat- masyarakat industri secular. Masyarakat industri bercirikan dinamika dan teknologi semakin berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian- penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang penting adalah penyesuaian- penyesuaian dalam hubungan kemanusiaan sendiri.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai konsekuensi penting bagi agama, salah satu akibatnya adalah anggota masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalah kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas.
Watak masyarakat sekular menurut Roland Robertson (1984), tidak terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya pemikiran agama, praktek agama, dan kebiasaan- kebiasaan agama peranannya sedikit.

   
Pelembagaan Agama.
Agama begitu universal, permanen (langgeng) dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak memahami agama, akan sukar memahami masyarakat. Agama melalui wahyunya atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia guna memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat dunia dan di akhirat, di dalam perjuangannya tentu tidak boleh lalai.
Untuk kepentingan tersebut perlu jaminan yang memberikan rasa aman bagi pemeluknya. Maka agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial, merupakan fenomena yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja, yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.
Dan terbentuklah organisasi keagamaan untuk mengelola masalah keagamaan. Yang semula terbentuk dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi, kemudian menjadi organisasi kegamaan yang terlembaga. Lembaga keagamaan berkembang sebagai pola ibadah, ide- ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Tampilnya organisasi agama akibat adanya kedalaman beragama, dan mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan dan sebagainya.

5. Konflik Yang Ada Dalam Agama dan Masyarakat
Contoh- contoh dan Kaitannya Tentang Konflik yang ada dalam Agama dan Masyarakat.
Agama dalam satu sisi dipandang oleh pemeluknya sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain dianggap sebagai sumber konflik. Menurut Afif Muhammad : Agama acap kali menampakkan diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda”. Sebagaimana yang disinyalir oleh John Effendi yang menyatakan bahwa Agama pada sesuatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan. Namun pada waktu yang lain menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang dianggap garang-garang menyebar konflik, bahkan tak jarang, seperti di catat dalam sejarah, menimbulkan peperangan.
Sebagaiman pandangan Afif Muhammad, Betty R. Scharf juga mengatakan bahwa agama juga mempunyai dua wajah. Pertama, merupakan keenggaran untuk menyerah kepada kematian, menyerah dan menghadapi frustasi.
Kedua, menumbuhkan rasa permusuhan terhadap penghancuranb ikatan-ikatan kemanusiaan. Fakta yang terjadi dalam masyarakat bahwa “Masyarakat” menjadi lahan tumbuh suburnya konflik. Bibitnya pun bias bermacam-macam. Bahkan, agama bias saja menjadi salah satu factor pemicu konflik yang ada di Masyarakat itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA
https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/alawlad/article/view/424
https://www.slideshare.net/naufalando/agama-dan-masyarakat-54877166?next_slideshow=1
http://yussandachristria.blogspot.com/2016/01/fungsi-agama-pelembagaan-agama-konflik.html
http://www.scribd.com/doc/69540131/DIMENSI-KOMITMEN-AGAMA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan

  Pengertian Masyarakat Pengertian Masyarakat ini merupakan suatu kelompok manusia yang hidup dengan secara bersama-sama di dalam suatu wilayah serta kemudian membentuk sebuah sistem, baik itu semi terbuka atau juga semi tertutup, yang mana interaksi yang terjadi di dalamnya ialah antara individu-individu yang terdapat di kelompok tersebut. dan secara etimologis kata dari “masyarakat” ini berasal dari bahasa Arab, yaiut “musyarak” yang memiliki arti hubungan atau interaksi. Sehingga kemudian definisi masyarakat tersebut ialah suatu kelompok manusia yang hidup dengan secara bersama-sama di suatu daerah atau tempat serta juga saling berinteraksi di dalam komunitas yang teratur. Syarat - syarat Menjadi Masyarakat 1. Manusia yang Hidup Bersama Manusia sebagai makhluk sosial itu pasti tidak dapat untuk hidup sendiri, Kesendirian yang dialami orang itu kemudian akan mendorong seseorang untuk bergaul serta berinteraksi. Interaksi yang terbentuk itu setidaknya terdiri dari dua orang yang h...

Perilaku Individu dan Kelompok dalam Organisasi

   Perilaku Individu dan Kelompok dalam Organisasi   Sebelum mulai ke Topik Pembahasanya kita harus mengenal terlebih dahulu dengan apa yang dimaksud organisasi. organisasi sendiri dapat diartikan sebuah kesatuan atau entity yang terdiri dari banyak orang. Bisa berupa institusi, asosiasi atau lembaga, yang memiliki tujuan sama dan berhubungan dengan lingkungan luar.     Nah agar tujuan organisasi dapat terlaksana dengan baik maka dalam organisasi terdapat sebuah struktur anggota yang dimana  Pengorganisasian adalah sekumpulan hubungan. Mendefinisikan hubungan vertikal dan horizontal antara orang-orang yang melakukan tugas organisasi. Tugas organisasi dibagi menjadi beberapa unit, personel di setiap unit diberi tugas tertentu. Hubungannya bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan organisasi dan individu. Struktur ini menentukan pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi organisasi atau aktivitas yang berbeda dihubungkan.     Tentunya seseor...